Rabu, 30 Oktober 2019

KOMPUS Akhwat Sertijab


KOMPUS Akhwat STID Mohammad Natsir mengadakan Meet and Greet bertemakan “Bersama Kompus Kita Melangkah Perekat Ukhuwah Islamiyah” pada hari Kamis, 10 Oktober 2019 di Kelas 5 KPI. Acara ini merupakan agenda rutin KOMPUS Akhwat yang diselenggarakan setiap tahunnya dalam rangka pembacaan laporan kerja serta serah terima jabatan kepengurusan KOMPUS periode 2018-2019 kepada kepengurusan KOMPUS 2019-2020. Acara ini dimulai pukul 20:00 malam.
Di awal acara, Ukhti Mutiah Sholehah memaparkan laporan kerja dalam menjalani kepengurusannya pada tahun 2018-2019. Maasyaallah. Dalam kepengurusannya itu telah banyak sekali menorehkan karya-karyanya di KOMPUS dan banyak membantu perpustakaan Kampus Putri STID Mohammad Natsir. Dan juga karya terbarunya meme islami yang dicetuskan oleh Ukhti Ayu Yasinta dan dibentuknya Bagian baru yakni, Tim Komik.
Setelah pemaparan beliau kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kepengurusan KOMPUS Akhwat STID Mohammad Natsir Tahun 2019-2020. Eva Yulia sebagai Ketua , Zakiyah Al Azizi sebagai sekretaris dan Refni Zega sebagai Bendahara dan terbagi menjadi 6 tim yakni, Tim Mading, Komik, Library Corner, Lomba dan PubDok, masing-masing tim diketuai oleh semester 3 yang telah masuk KOMPUS sejak tahun 2018-2019 dibawah bimbingan serta arahan keluarga kompus tahun lalu. Keluarga baru kompus tahun ini terdiri dari 10 orang yakni, 3 orang semester 3 dan 7 orang semester 1. Mereka adalah Ai Siti Jenab, Khusnul Cholifah, Kartini, Rini Dwi Utami, Erinne Claufalia, Apriana Tri R, Intan Fidaun Nufus, Anita Safitri, Salma Nur Kamilah Al Fagori dan Rizka Nur Halimah.
Kemudian ketua baru KOMPUS tahun 2019-2020 Eva Yulia, memberikan sambutannya “Bahwa kita adalah satu bangunan yang harus saling merangkul satu sama lain. Kita harus saling mengingatkan serta menasehati dalam menjalani jalan da’wah ini. Mari kita jalin kebersamaan dan pererat ukhuwah Islamiyah ini”.
Dalam acara ini dihadiri sekitar 30 orang yakni, Ukhti Dian Kurniati, selaku Staff Bagian perpustakaan, dan keluarga KOMPUS dari angkatan pertama tahun 2013-2019. Alhamdulillah dari setiap angkatannya pula diberikan kesempatan untuk memberi sambutan dan kesan pesannya selama menjadi bagian dari keluarga KOMPUS. Sehingga menambah suasana kehangatan acara ini dan dari setiap sambutan memberikan semangat bagi setiap individu yang hadir dalam acara ini.
Dan juga acara meet and greet ini berlangsung dengan harmonis karena juga bentuk ruangan serta posisi yang dibuat melingkar menjadi beberapa bagian yang dimana dalam bentuk tersebut terdiri dari semua semester sehingga adanya cerita serta canda tawa hangat diantara mereka.
Sebuah ungkapan dari salah satu keluarga kompus angkatan pertama yang ikut hadir dalam acara ini. “Alhamdulillah KOMPUS kini telah banyak mengalami peningkatan yang sangat drastis dan baik dan janganlah kalian melupakan sejarah JASMERAH, karena saya mewakili angkatan pertama sebagai pondasi dan kalian kini telah membuat bangunan yang kokoh. Masyaallah. Dan juga KOMPUS sangat memberikan kenangan tersendiri bagi saya pribadi, ketika membuat mading itu dijadikan hiburan dalam melewati kepadatan saat menjadi mahasiswi dulu”. Ujar Ukhti Linda dengan penuh semangat bahagia nan haru.
Penutupan acara berlangsung setelah sambutan demi sambutan serta kesan pesan dari setiap angkatan keluarga KOMPUS. Acara diakhiri dengan makan serta sesi foto bersama. Acara berakhir pukul 22:00 malam.


Sabtu, 07 September 2019

Cerpen


Tersirat Makna Dibaliknya
Semburat memerah menyelimuti langit bumi menyinarkan cakrawala kehidupan, kicauan burung nan tasbih menggema bersama gemericik embun dedaunan yang berjatuhan dan tak kalahnya lambai pepohonan meramaikan suasana dengan sejuknya hawa yang segarnya menyejukkan hati. Dibalik tirai kehidupan derit klakson yang berbunyi pertanda awal pagi di kota metropolitan ini.
            Sejenak kuterdiam memandang langit bumi yang indah dibalik bangunan kokoh bercat putih, dalam gumamku terpikirkan akan keadaan kini yang telah terlewat hari yang berlalu dan tak terulang kembali dimana hari-hari penuh canda tawa, suka duka dan pahit manisnya kehidupan mewarna.
            Sembari kumelihat kalender putih itu, menghitung bulan yang telah berlalu, kutersenyum dan dari hatiku terdalam bertanya tanya sendiri bukankah diri ini begitu tercengang ketika 7 bulan sudah ku berada di tempat perjuangan ini begitu tak terasa waktu berjalan mengitari roda kehidupan dan semua kan menjadi saksi bisu perjuangan bersama para mujahidah dakwah disini.
            Langit yang mulai gelap dengan bertaburkan rona hitam antara putih dan birunya langit seakan mengingatkanku tentang suatu hal, bahwa segala suka dan duka kehidupan indah diatas takdirNya namun keluhan seorang manusia terhadap kehidupan yang terus menghujam dinding kehidupan kian meretakkan nan kian merobohhkan. Astaghfirullah. Ketika rintikan hujan pun membasahi alam memberikan sumber kehidupan makhluk disegala penjuru tempat dan akan diakhiri dengan pelangi yang memancarkan keelokkannya semakin menguatkan diri ini bahwa keras, perih dan jua lelahnya dalam perjalanan menimba ilmu itu bukanlah hal yang mudah bahwa semua perjalanan panjang ini harus dilewati dengan perjuangan yang dibalut dengan kekuatan baja yang mengakar kuat dan hingga akhirnya nanti akan menuaikan hasil seindah pelangi yang menggembirakan hati atau bahkan mungkin lebih dari itu karena rencana Allah itu memang sangatlah indah dan tak terduga duga dan jua bahwa sebuah usaha tak akan pernah membohongi hasil. Diri ini pun teringatkan dengan sebuah mahfudzot yang bermakna “Barangsiapa menanam akan menuai”. Sudah seharusnya hati ini bersikap dewasa pula, karena perjalanan ini baru dimulai, masih pemanasan yang mantap agar kelak saat action nggak mudah tumbang. MaasyaAllah indahnya kuasa Sang Maha Pemilik jiwa, terpikat hati kala membaca ayat alam yang terhampar. Kembali senyum ini merekah dan menanamkan semangat yang kian menggelora untuk melanjutkan perjalanan panjang penuh perjuangan ini.
            Kala dingin menusuk tulang, enggan rasanya terbangun dari bunga mimpi panjang ini. Namun segera ku tersadar untuk bermesra dalam sunyinya waktu itu bersama Sang Penggenggam jiwa. Suasana sejuk nan hawa segar ini membawakan aroma kerinduan yang mendalam pada diri ini. Disinilah kala waktu kerinduan pada keluarga yang dapat tertumpahkan. Adakala waktu lainnya yakni, penantian mahasiswi menghitung dan menunggu hari ahad tiba, dimana hari yang dinantikan kehadirannya untuk sejenak melepas kerinduan pada orangtua tersayang. Cukup dengan 10 menit mereguk keberkahan mengilangkan sejenak kerinduan yang tertahan dan itupun terkadang khilaf diri melebihi waktu segera cepat ku harus tersadar akan kekhilafan itu karena itu adalah sebuah kedzaliman yang sudah seharusnya tidak dilakukan oleh seorang muslimah sejati. Inilah masa pesmi yang selalu dirindukan. Disini ku dapat mengambil hikmah kehidupan yang amat besar dibaliknya. Sesekali tangis itupun terpecah saat rasa itu menggelora dalam dada kuteriakkan dihati akan rindu yang tak tersampaikan. Saat ini mulai tersadar bahwa susahnya kawan ketika ingin menghubungi orangtua. Ini adalah hal besar yang patut disyukuri bagimu bahwa nikmat Allah yang melimpah ruah hanya tinggal diri ini yang harus banyak belajar dari lingkungan untuk mengambil pelajaran berharga, akupun semakin memahami bahwa hanyalah dengan doa yang akan dapat meredam luka rindu, mempererat persaudaraan dan dengannya pula mendekatkan yang jauh.
            Berjalannya diri ditengah bangku perkuliahan yang kian menyibakkan keseriusannya, kini ku mendapatkan suatu hal yang berbeda sungguh hal yang amat mengagumkan dan mematrikan sebuah memori kenangan. Dimana Sang penerang diri yang amat sangat mencontohkan kewibawaannya, mengajarkan dengan penuh tulus dan semangat yang tak pernah rapuh walaupun tak faham fahamnya nya mahasisiwi tetap beliau kobarkan semangatnya mendidik kami dengan senyuman kebahagiaan, sentuhan halus kelembutan dan tak telak pula goncangan milyaran untaian kata hikmah menerobos halus perlahan kedalam hati terdalam kami, sungguh ini adalah suatu hal yang amat sangat berharga. Dihiasi pula dari cerita perjalanan hidup pahit beliau-beliau yang dihiasi dengan milyaran ujian kehidupan yang beliau-beliau jalani dengan penuh kesabaran dan senyuman ketulusan yang terdengar olehku dari setiap pelosok kampus semakin mengobarkan semangat tinggi kami.
            Usainya hari perkuliahan yang sejenak ini dibalik bangunan bercat putih itu kumenikmati sunyinya sore di tengah padatnya kota metropolitan ini, dengan membawa beberapa tumpukan buku serta pegangan hidup seorang muslimah sejati kumemandangi hijaunya beberapa pepohonan dan langit yang terhampar dengan mega yang menghias. Waktu kian berlalu hingga kutenggelam dalam kenyamanan ini. Kudengar suara langkah kaki di kelas panggung seketika ku menolehkan arah datangnya ramai suara itu dan seakan hal itu menampar hati egoku yang terdalam dimana nikmat waktu luang yang telah diberikan padamu amat besar, hanya terkadang kau belum mengetahui hakikat nikmat itu dengan baik. Karena dibalik kehidupan terdapat makna besar bagi yang mau mengambilnya namun karena diri yang tidak memperhatikan sehingga tak tersadarkan. Maka dari itu perhatikanlah sekitar dengan baik dan teliti serta ambillah hikmah sebanyak-banyaknya!
            Sudah sewajarnya setiap dari insan mendapat sebuah amanah dan wajib baginya untuk menjaga. Amanah adalah suatu titipan illahi yang harus disampaikan ataupun digunakan untuk hak-haknya, walaupun itu sekecil bak semut dibalik ranting pepohonan yang rasanya tak nampak di mata para insan ataupun makhluk lainnya. Tak cukup bila rasanya ku sebutkan satu persatu, hanyalah satu yang diambil dari kehidupan disini dengan adanya sebuah piket harian mahasiswi dimana kita diamanahi untuk melakukannya dengan segenap kesadaran masing masing individu dan tugasnya pengurus hanyalah mengingatkan kami itupun tak dapat semua terkontrolkan karena sudah sewajarnya sebagai seorang muslimah sejati menjalankan amanah sebaik mungkin namun tak luput dari itu adakalanya sebuah kekhilafan seseorang. Semua itu dapat kita kontrolkan dengan baik, diri ini pribadi melakukan melalui adanya mutaba’ah harian da’iyah pribadi mengajarkan diri untuk membuat sebuah muhasabah piket, darinya kita dapat terus mengintropeksi diri dan menjadi lebih baik untuk kedepannya. Nah segala hal memanglah banyak terdapat hikmah yang tak nampak kembali nyalah ke diri kita masing-masing yang ingin memperhatikan ataukah tidak.
            Kulangkahkan kaki dengan semangat yang kian meronta menuju sebuah tempat tumpukan barisan rapi teman terbaik dalam hidup disini kutemukan sebuah kehangatan yang terbalut dalam keluarga komunitas ini yang terkumpulkan masing-masing individu yang sama-sama memiliki kesukaan yang sama dan jua mempunyai tujuan yang sama untuk menyuburkan tanah dakwah diseluruh penjuru alam dengan karya-karya yang dimilikinya. Kuteringat sebuah kata bijak seseorang bahwa dengan “menulis dunia akan mengenal kita dan dengan membaca kitapun akan mengenal dunia”. Komunitas inilah yang disebut KOMPUS yang telah banyak mengajarkan dan menyadarkan diri dalam kehidupan ini, dimana yang telah mengukirkan saksi bisu perjuangan dakwah kami yang banyak memberi kenangan yang indahnya tak dapat  terucapkan oleh kata-kata. Darinya pula dibimbing oleh seorang guru kehidupan dalam menjalani komunitas ini. Kami saling melengkapi dan belajar sesama. Yang paling terkesan adalah ketika bermalam dengan jalan dakwah kami bersama komunitas ini. Proses kami tak terlihat namun dimana hasilnya yang harapannya agar menjadi penyalur media dakwah dan penginspirasi para insan.
            Beranjak darinya, dengan bermodalkan lembaran kertas dan setetes tinta dalam genggaman diri, semangat kian mengobarkan api ide dan gagasan diri untuk terus menekuni dunia penulisan sebagai ladang latihan dakwah dimasa mendatang nantinya. Disini kutemukan pelajaran amat berharga semakin menyemangati diri ini untuk menggeluti dunia kepenulisan, itulah sebuah cita-cita yang sempat akan terhapuskan dalam kalbu kian harap. Disini Allah tunjukkan cahayaNya yang terangnya menerangi bilik kehidupan di tempat perjuangan ini, dengan adanya buku harian seorang da’iyyah Ilallah memberikan motivasi tersendiri bagiku untuk terus menulis dan tak terus hingga tak terhenti begitu saja. Memang jalan yang Allah berikan adalah yang paling terindah dengan caraNya yang terindah terkuak kado yang menakjubkan persada bumi.
            MasyaAllah, cahaya Illahi telah menerangi dengan pancarannya yang meronakan kebahagiaan dalam setiap dinding kehidupan. Bukankah rasa syukur itu seharusnya terucap dan tak terhenti hingga kapanpun dengan diiringi oleh bunga ketakwaan yang harumnya tercium hingga seluruh penjuru alam dihiasi dengan rasa malu akan nafsu kemaksiatan dan saling bersikap baik dengan sesama insan bahkan seluruh makhlunya, walaupun kira disakiti tetaplah tersenyum dan membalas nya dengan semerbak kasih sayang dan jika ada keluhan yang akan terlontarkan cobalah ingat kembali bahwa jutaan bahkan lebih tak terhitung nikmat melimpah ruah yang diberikan tak sepadan dengan apa yang akan kita keluh-keluhkan. Bukankah seperti itu seorang muslimah sejati yang sesungguhnya?
The End
#Terkadang manusia meremehkan hal kecil dalam kehidupan padahal sejatinya dari situlah  kau dapat mengambil makna kehidupan yang sesungguhnya
#Belajarlah dari sekitar! Amati, perhatikan dan ambillah pelajaran darinya
#Belajarlah dimanapun kalian berada dan dengan siapapun
#Dibalik tirai kehidupan terdapat makna indah yang tersirat
at STID Mohammad Natsir

Sabtu, 17 Agustus 2019

Menggapai Emas Keikhlasan


Bismillah, Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat membaca saudara dunia akhirat,
Ini adalah nasihat untukku, untukmu dan kita semua
Semoga bermanfaat dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik
Artikel yang berjudul “Menggapai emas keikhlasan”,
Semoga kita dapat meraihnya, Aamiin yaa Rabbal ‘Alamiin
                Betapa sulitnya menggenggam keikhlasan hati ketika beramal. Badai godaan yang diembuskan beribu-ribu setan melimbungkan badan. Belum lagi letusan dahsyat riya dan ujub yang kian merapuhkan ikhlas dalam dada. Walau kita tahu, bahwa amalan tanpa dibungkus keikhlasan hanya akan berakhir seperti debu yang diterbangkan angin.
                Kemuliaan amalan sebanding dengan keteguhan dan kegigihan hati kita dalam menjaga keikhlasan. Dua hal ini hanya mampu dibangun dengan latihan, proses yang berkelanjutan, rutin, selalu bersikap rendah hati, dan yang terpenting sabar melakukannya. Banyak strategi yang dapat kita petakan untuk melindungi keikhlasan dari serbuan balatentara setan yang bersekutu dengan riya dan ujub.
                 Ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan agar mendapatkan keikhlasan dalam beramal, daintaranya:
1.      Banyak Berdoa
Beliau Saw senantiasa berdoa kepada-Nya,
   ” Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun dari dosa syirik yang tidak aku ketahui” (Hr.Ahmad)
   Mohonlah kepada Dzat Yang Mahakuasa akan jalan keselamatan agar setan dilemahkan dan tidak berdaya menguasai hati kita, agar hati ini tidak condong kepada kemaksiatan dan perbuatan dosa. Allah Yang Maha Mendengar pasti mendengar doa kita. Walaupun hanya sebatas bersitan hati yang paling halus dan samar sekalipun, Dia pasti akan mengabulkannya. Karena ini adalah janji-Nya, maka tidak ada keraguan atas kepastian janji Allah. Bila Allah telah berkehendak, tak ada seorang pun yang sanggup menghalanginya, tidak juga iblis yang bertitel sebagai dedengkot kejahatan.
   Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahku) dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. {Al:Baqarah(2):186}
   Doa Umar bin Khattab
   “Ya Allah, jadikanlah seluruh amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya ikhlas menghadap wajah-Mu, dan jangan jadikan sedikit pun dari amalanku karena makhluk”.
2.      Menyembunyikan kebaikan
Langkah ini dapat membantu menumbuhkan keikhlasan dalam hati seseorang, dikuatirkan jika memperlihatkannya pada manusia akan menumbuhkan bibit-bibit riya dalam hati. Karena kualitas iman dalam hati kita kadarnya berbeda-beda. Jangan pula bersu’uzhan pada seorang ulama mumpuni yang terang-terangan melakukan kebajikan didepan umum lalu menyerunya kepada manusia untuk melakukan seperti yang dilakukannya. Kita tidak perlu meragukan keimanan sang syekh tersebut. Karena itu adalah bagian dari dakwah untuk menyeru manusia melakukan amal kebajikan sebanyak-banyaknya.
   Tapi jika belum sanggup, berusahalah untuk belajar ikhlas dengan cara menyembunyikan amalan kita dari pandangan manusia. Iman yang belum kokoh menancap lebih mudah terbakar api riya daripada api yang membakar kayu bakar. Masih dalam kadar iman yang belum kukuh ini, sebaiknya amalan yang kita kerjakan dihindarkan dari pujian manusia. Kalaupun terpaksa dilihat orang banyak, maka hendaklah dia seperti tidak menganggap telah melakukan sebuah kebaikan agar dalam hatinya tidak terbesit rasa bangga diri.
3.      Memandang rendah amal kebaikan sendiri
Dalam kasus ini, bukan berarti kita menafikan apa yang telah kita kerjakan. Yakinlah, Allah Maha Mengetahui apa yang telah kita lakukan. Dua malaikat pencatat yang ada di kanan dan kiri kita tidak akan pernah luput satupun mencatat kebaikan yang telah kita lakukan, demikian juga dengan dosa dan maksiat yang kita kerjakan.
Perkataan manusia hanya sebatas perkataan yang akan terbang diembus angin lalu, dan yang ada di sisi Allah itulah yang sangat menentukan. Dalam hal ini, memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan akan dapat mengundang keikhlasan hati. Memagari hati dari bisikan-bisikan setan yang selalu menghasut. Betapa banyak bencana yang dialami ileh seorang hamba ketika dia merasa bangga dengan amal kebaikan yang dilakukannya. Perilaku semacam ini dapat menyeretnya kedalam sikap ujub (bangga diri). Sikap tersebut akan membakar keikhlasan hati.
4.      Takut jika Allah tidak menerima amalnya
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.{Qs. Al-Mu’minun(23):60}
Aisyah r.a menanyakan maksud ayat ini kepada Rasulullah Saw “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan ayat, adalah orang yang mencuri, berzina dan meminun khamr kemudian dia takut terhadap Allah?”
Rasulullah berkata, “tidak wahai putri Abu Bakar ash-Shiddiq, yang dimaksud ayat itu adalah mereka yang shalat, puasa, bersedeqah, namun mereka takut amal mereka tidak akan diterima Allah”(Hr.Tirmidzi)
5.      Tidak goyah dengan pujian
Bagi orang yang berilmu dan cahaya iman kuat terpancar dalam hatinya, pujian dan sanjungan justru laksana sembilu yang menyayat-nyayat hatinya. Hanya akan berbuah kebinasaan bila perkataan yang demikian itu ditujukan membuatnya merasa bangga dengan amalan yang dilakukannya.
6.      Membaca ayat dan hadits motivasi maupun perkataan sahabat, tabi’in dan alim ulama serta saudara seiman

ü    ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus...”
                                                                                                                                -Al-Bayyinah:5-
ü     “Ikhlas adalah jujurnya niat bersama Allah”
-Ibrahim bin Adham-
(tabi’in generasi pertengahan, w. 162 H)
ü    “Peganglah olehmu urat-urat keikhlasan, daun kesabaran, dan perasan tawadhu dan letakkan semua ini dalam bejana takwa serta tuangkan ke atasnya air khasyyah (takut karena mengetahui hakikat Allah) dan takut kepada Allah. Nyalakanlah ia dengan api kesedihan, tangisan dan penyesalan. Murnikanlah ia dengan merasa diawasi terus oleh Allah, makanlah ia dengan tangan kejujuran, minumlah ia dengan gelas istighfar dan berkumurlah dengan sifat wara’ dan jauhkan darimu dari sifat loba dan tamak, niscaya engkau sembuh dari penyakit jauh dari Allah.”
-Al-Fudhail bin iyadh-
ü    “Ikhlas adalah menjadikan diam dan geraknya seorang hamba hanya untuk Allah secara khusus”
-Sahl-
ü    “Jika engkau shalat malam, maka mintalah kepada Allah agar Dia memperbaiki hati dan niatmu, karena engkau tidak akan bisa mengobati sesuatu yang lebih berat daripada keduanya”
-Uwais al- Qarni-
ü    “Ikhlas adalah misk yang disempurnakan didalam misk hati yang aromanya selalu mengingatkan orang yang membawanya”
-Sahl bin Abdullah at-Tustari-
ü    “Barangsiapa yang menyaksikan ikhlas dalam keikhlasannya, maka keikhlasannya itu masih memerlukan ikhlas”
-sebagian as-salaf-
ü    “Dengan inilah orang-orang itu menjadi tinggi derajatnya”
-Imam Ahmad-
ü    (yaitu) Amal shalih yang kamu tidak menginginkan seseorang memujimu atasnya, kecuali karena Allah
-Ali bin Abi Thalib-
ü    Mengikhlaskan niat bagi para pekerja lebih berat bagi mereka daripada seluruh pekerjaan (yang dipikulnya)
-Ayyub-
ü    Ikhlas adalah memurnikan amal dari segala hal yang mengotorinya
-Al-Harawi-

Wallahu a’lam bisshowab.

Sumber:   Effendi Nurrahman. 2013. 1 menit hilangkan susah. Yogyakarta. Pro-books
                Dr. Ubaid bin Salim al-Amri. 2018. Dahsyatnya ikhlas bahayanya riba. Jakarta. Darul haq


Pena Mujahidah